(Sumber Gambar: Istimewa) Berbicara tragedi kemanusian yang menimpa muslim Rohingya bukan kali ini saja. Setiap tahap sejarah perjalanan Muslim Rohingya adalah tragedi darah, airmata dan duka. Sungguh menurut saya, sangat keliru bila kali ini kita seakan kebakaran jenggot dan menganggap seolah-olah korban tewas kali ini lebih bernilai dibanding korban tewas beberapa tahun sebelumnya atau mungkin puluhan tahun silam. Meskipun, memang harus diakui bahwa tragedi kali ini memiliki peningkatan kualitas, karena diawali oleh serangan kelompok ARSA (Arakan Rohingya Salvation Army) terhadap 24 pos militer Myanmar yang “katanya” menewaskan 32 polisi pada periode 25 s.d 27 Agustus 2017 silam. Hal itu yang kemudian memicu militer Myanmar seakan memiliki alasan untuk membantai muslim Rohingya secara brutal. Indonesia - Di Indonesia keprihatinan mendalam terhadap tragedi pembantaian etnik Rohingya di Myanmar sangat terlihat begitu jelas.Berbagai pernyataan dan sikap,termasuk k...
-Dia yang Bukan Saudaraku Seiman, Adalah Saudaraku Dalam Kemanusiaan-