Langsung ke konten utama

Postingan

Belajar dari Manusia dan Semesta.

Di dunia ini, ada banyak sekali ragam warna manusia. Semua hidup dan menghidupi semesta dengan cara pola yang mereka yakini mendatangkan -kesenangan dan kemanfaatan- bagi dirinya ataupun sosialnya. Ada banyak manusia yang menghabiskan waktunya menyibukan diri dengan pekerjaan, ada juga manusia yang menghabiskan waktu dengan kesenangan dan hobi, dan banyak kiranya manusia yang menghabiskan waktu entah untuk kesibukan -yang dia sendiri- tidak tahu yang disibukannya. Tapi satu yang aku yakini, bahwa mereka ada dan menularkan ilmu, berbaur dengan padatnya bumi, luasnya cakrawala, indahnya langit dan birunya laut. Aku sendiri tidak tahu, dalam barisan yang mana manusia sepertiku. Yang difahami, aku banyak belajar dari mereka. Seperti kadang aku sendiri seringkali sangat menikmati -kala pagi menyapa- untuk sekedar memperhatikan kesibukan mereka. Saat itu pula aku merasa terbisiki oleh mbah Pram “Manusia harus Belajar menjadi Manusia” Bisikan Pramudya ini seperti menegaskan kepad...

[Tidak Ada] Manusia Gagal Produk

Manusia adalah makhluk yang sempurna, semacam legitimasi-dalam ajaran agama islam itu tak terbantahkan, dan bahkan dalam agama-agama yang lain kita sama-sama sepakat akan hal itu. Tetapi kemudian pertanyaan besar, kenapa kita masih memandang cacat (mohon maaf) manusia yang memiliki keterbatasn khusus, semisal tidak bisa melihat, tidak punya kaki, tidak memiliki tangan dan lain sebagainya. Bukankah dengan menganggap cacat itu secara tidak langsung kita mereduksi kesempurnaan manusia? kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut lelaki yang selalu memegang tongkat di tangannya.   Kadang, tanpa disadari ataupun tidak, kita terlalu bangga dengan kesempurnaan dan menganggap saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan dengan label yang macem-maem, termasuk barangkali sebagai manusia yag harus di kesampingkan. Perkenalanku dengan Bapak Setia Adi, telah banyak membuka simpul-simpul kemanusiaanku, beliau adalah seorang Diffabel yang selalu membutuhkan tongkat ketika hendak berjal...

Rahasia (sebuah cerita diri)

Namaku Nisa’, usiaku sekarang menginjak 22 tahun. Disini, lewat tulisan ini, aku ingin bercerita tentang rahasia yang selama ini aku tutup rapat. Rahasia ini belum banyak yang tau, tapi saat kau sudah membaca tulisanku ini, berarti kau sudah mengetahui rahasiaku, dan sssssssttt...!! Pintaku cuma satu, jangan ceritakan kepada siapapun, terutama kepada ibuku. Biarkan ini tetap menjadi rahasia, antara aku dan kamu... Sekarang, saat ku mulai menulis cerita ini, aku sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di kota yang katanya berbudaya dan terpelajar. Seperti mahasiswi yang lain, selepas lulus dari SMA di kota kelahiranku: Tasikmalaya, aku mulai melirik untuk menggantungkan cita-citaku di kota yang paling romantis, yap, kota itu bernama : Jogjakarta. Sejujurnya, kepribadianku biasa saja, seperti perempuan lain pada umumnya, di sela kesibukanku merampungkan kewajiban akademik, Aku juga sering menaruh hati pada setiap lelaki yang pintar dan tampan. Tercatat dalam daftar...

Safira (sebuah cerpen)

  Semenjak Supardi membawa safira pulang dan mengizinkan tinggal dirumahnya, perempuan itu meradang, rumah tangga yang telah dijalani selama tiga tahun terkoyak, manis bahagia yang dulu setiap hari mereka lalui, sekarang berubah menjadi lautan amarah.  Tiap hari perempuan itu harus membanting minimal satu perabotan rumah tangganya, entah itu piring, gelas, cangkir dan sesekali kadang panci pun harus meloncat keluar dari dapur. Sebenarnya sih wajar, perempuan mana yang sudi dimadu, apalagi safira cantik, mulus dan menggiurkan. Semua mata lelaki akan terhipnotis dengen kesempurnaanya, termasuk Supardi yang lupa diri ini. “mau sampai kapan mas, seperti ini terus’? keluh juminten suatu pagi, ketika melihat Supardi sedang asyik berduaan dengan safira diteras rumahnya. “heh!, kamu diam aja jum, ini urusan laki-laki, mending kamu masuk, urus itu dapur, aku mau sarapan”!. Bentak Supardi, tak kalah garangnya dengan Juminten. “mbok sampean iku eling mas, jadi laki-laki janga...

Menyelami Kembali Hakikat Kemanusiaan

Judul               : Cerita Pilu Manusia kekinian Penulis             : Edi AH Iyubenu Penerbit           : IRCiSoD Cetakan           : Pertama, Februari 2016 Tebal               : 264 Halaman ISBN               : 978-602-0806-71-6 Melihat tingkah laku manusia modern saat ini memang terasa memilukan. Orang-orang demikian sibuk dengan pekerjaan, memburu penghasilan, mengeruk saldo, menghitung waktu, memanjat karier, dan ujungnya mabuk kekuasaan. Karena ternyata ukuran kesuksesan hari ini, hanya terletak pada angka-angka dan kemewahan-kemewahan duniawi, yang akhirny...

Miskin Keyakinan (Sebuah Cerpen)

Aku tergeragap, tubuhku menggigil, keringat dingin seketika menguasai semua pori tubuh, peluh bercucuran dari dahi yang lesuh jatuh diatas ketakutan, saat itu bisa ku rasakan degup jantungku berdetak diatas ambang kewajaran, gemetar semua urat dan otot, tenggorokan terasa kering dan rasa haus yang luar biasa menyandera kerongkongan, untuk beberapa menit cemas, waswas dan takut menguasai persendian tubuhku.    Aku coba terus menekan gempuran badai jiwa yang terus melonjak-lonjak dalam diri, seketika bayangan gambar sisi kelam hidupku memenuhi isi otak, bayangan dosa-dosa silih berganti terus bermunculan, kepala tiba-tiba pening.  Aku memeluk erat lututku dan membisu. Ruangan ini gelap, yang bisa ku lihat hanya bayang-bayang dari percikan cahaya halilintar dari balik jendela kamar, ya..!!, di luar hujan gerimis masih mengusap tanah, mengganti gersang dengan wajah basah, sementara suara petir masih merongrong, memekakan gendang telinga, suaranya membawa takut menjadi ka...

Membawa Luka

foto:putianggraini.wordpress.com             Keraguan saat memasuki kota gudeg itu tiba-tiba muncul, saat langkah kakiku pertama kali   menapaki peron stasiun Tugu, ada kegamangan dalam batinku yang melonjak-lonjak hingga menghadirkan keraguan. Kutimang-timang kadar kekalutan tanpa mempedulikan orang yang berlalu lalang dikiri dan kananku. Aku putuskan diam sejenak. Beberapa detik berlalu, akhirnya kulangkahkan kaki lagi. Kumantapkan tekad dalam tiap jengkal kaki yang berpacu dengan waktu. Yogyakarta sudah banyak berbenah, kenanganku mengulur ke masa lalu, dimana pertama kali aku menginjakan kaki dikota budaya ini, masih teringat saat lelaki itu menyambutku dibalik pintu keluar  stasiun Tugu dengan senyum keteduhan. Ia memeluk erat tubuh kucelku yang seharian belum mandi dan banyak terbalut debu kereta. Lelaki itu begitu sabar menunggu kedatanganku dari ibu kota. Sikapnya yang sabar, dan tatapan matanya yang teduh, itulah alasan yang m...